Pages

Sabtu, 09 Mei 2015

8 Mei 2015

rumah di perkampungan
sebuah gunung

segerombolan lelaki
10-20 orang
mendatangi sebuah rumah seperti kost-kostan
dan memanggil nama perempuan tersebut
mengantri seperti mau. bergiliran.
dan keluarlah
perempuan cantik.(wajah yang samar-samar tidak terlihat) di balkon lantai 2
// itukah gambaran perempuan yang senang mencari perhatian laki-laki di dunia?
//seperti pelacur

lalu, aku bersama seorang perempuan
yang tinggal sendirian
menemani
menginap dirumahnya
bepergian
sebuah jalan lurus, jalanan yang sempit

awalnya takut
karena banyak penampakan perempuan perempuan seperti mayat hidup dipinggir jalan
wajahnya pucat, lebam kebiru biruan, sebagian wajah diperban berlilitan seperti mum/pocong

perempuan yang bersamaku tersebut
mengatakan
itu bukan hantu/setan.
mereka sakit, katanya.
sebuah wabah penyakit yang hanya menyerang kaum perempuan
// itukah gambaran mereka yang senang bertabarruj di dunia?
di keramaian
tanah tandus kering berpasir,
ini seperti di timur tengah
antrian panjang
seperti mau membuat buku.

disana ternyata tidak sendiri
ada beberapa wajah yang kukenal
ada sahabatku dan ibunya juga yang bertubuh tinggi berkerudung.
akhirnya antrian untukku datang
dan terdaftarlah data diriku disebuah buku
seperti diberikan buku tabungan dengan bahasa arab.

lalu aku kembali,
bertanya-tanya pada perempuan berhijab yang melayani
ternyata dia mampu berbicara bahasa indonesia
tetapi dengan aksen seperti india

karena di buku tabungan itu
aku tidak tahu nomor rekeningku yang dibagian mana
datanglah (satu dari sekian sahabat, sepertinya ifraz? ) melompati pagar dan menghampiriku

dia mendekat dan membisikanku
jangan sembarangan memperlihatkan isi di buku itu 
//sebuah tegurankah?, untuk tidak memperlihatkan amal baik yang dilakukan
nanti isi bukumu dikuras oleh orang 'dalam'.
//apabila dilakukan, pahala yang kita punya akan hangus tak bersisa

dia mencatat nomor staff yang melayaniku
dan seperti memanfaatkan situasi
menggunakan cap bank tersebut tanpa terlihat
mengecap sebuah kertas, visa? passport?
seperti sebuah izin.

dan selesainya
aku berjalan menjauhi
kerumunan.

berdiri di tembok bangunan khas timur tengah
(tembok berwarna kuning pasir)
dan berkata
ayo, waktunya berangkat

dan dibelakangku
aku melihat beberapa orang mendekat
sebagian
sahabatku
menghampiri
mengikutiku.

*terbangun

(terlihat ada #ANS, tito, ifraz, dan sahabatku yang lain)

Selasa, 05 Mei 2015

Bertemu Uje - 4 Mei 2015 -

Suatu tempat

diantara Rerumputan, dan pepohonan

Duduk menunggu seseorang.

Ustad Uje?

Beliau menjabat tanganku dan berbicara sesuatu.

selamat katanya? untuk apa?

lalu ia berbicara lagi.

*terbangun.
*air mataku mengalir keluar
*sampai mandi pun mencoba mengingatnya, air mataku keluar begitu saja. kemudian terisak.

saat mimpi ini mau dicatat.
benar-benar lupa beliau bilang apa.
semoga terekam dan terimplementasi secara tidak langsung pesan beliau dalam alam bawah sadar diri.